Berita

Home / Berita / Detail
KHUTBAH SHOLAT JUMAT
KHUTBAH SHOLAT JUMAT
Rabu, 07 Oktober 2026 11:33 WIB

 Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Marilah bersama-sama kita panjatkan puji serta syukur kita kepada Allah swt. Tuhan yang senantiasa memberikan kasih sayang dan berbagai macam kenikmatan yang begitu besar kepada kita, Salah satu kenikmatan yang Allah berikan adalah pada siang hari ini kita masih diberikan kemampuan untuk melaksanakan ibadah Shalat jumat berjamaah di masjid Nurul Iman ini.

Shalawat serta salam, semoga senantiasa tercurahkan kepada junjungan kita, Nabi besar, Muhammad saw. Juga kepada keluarganya, kepada para sahabatnya, dan juga kepada seluruh pengikutnya hingga akhir zaman.

Pada kesempatan ini pula kami tidak lupa untuk berwasiat kepada diri kami sendiri, dan juga kepada para hadirin sekalian, untuk berusaha meningkatkan ketaqwaan kita, dengan cara melaksanakan perintah-Nya dan meninggalkan larangan-Nya.

Karena taqwa merupakan kemuliaan di sisi Allah. Sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur'an surat Al-Hujurat ayat 13:

Artinya: Sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu.

Saudara-saudaraku seiman rahimakumullah,

Dalam kesempatan khutbah Jum’at kali ini, Saya mengajak para jamaah semua untuk bermuhasabah dan merenungkan sabda Baginda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: 

 

Artinya; “Kedua kaki seorang hamba tidaklah beranjak dari tempat hisabnya pada hari kiamat hingga ia ditanya mengenai empat hal: (1) umurnya, untuk apakah ia habiskan, (2) jasadnya, untuk apakah ia gunakan, (3) ilmunya, apakah telah ia amalkan, (4) hartanya, dari mana ia peroleh dan dalam hal apa ia belanjakan” (HR Ibnu Hibban dan at-Tirmidzi). 

Jamaah Shalat Jum’at rahimakumullah,

Perkara pertama, yang akan kita pertanggungjawabkan pada hari kiamat kelak adalah umur kita. Sejak kita menginjak usia baligh, seluruh apa yang kita yakini, kita ucapkan dan kita perbuat, akan kita pertanggungjawabkan kelak di akhirat. Jika kita mampu untuk memanfaatkan umur kita dengan sebaik-baiknya untuk melaksanakan kewajiban-kewajiban kita sebagai seorang muslim, dan meninggalkan apapun yang telah dilarang oleh Allah SWT, maka sesungguhnya kita adalah bagian dari orang-orang yang beruntung. Dan sebaliknya, kita akan merugi, apabila amal perbuatan yang menjadi kewjiban kita sebagai seorang muslim belum mampu kita laksanakan.

Selain daripada itu, panjang pendeknya umur seseorang tidak menjadi jaminan baik buruknya seseorang di mata Allah Swt. Panjangnya umur, tidak menjamin orang itu masuk surga, sebaliknya pendeknya umur bukan pertanda orang itu akan masuk neraka, karena sesungguhnua keberkahan umur seseorang tidak dihitung dari lamanya dia hidup didunia, namun dinilai dari kualitas amal kebajikan yang dia lakukan. Rasulullah  SAW bersabda:

 

Artinya; “Dari Abdullah bin Busri ra meriwayatkan, bahwa ada seorang Arab Badui berkata kepada Rasulullah SAW: “Wahai Rasulullah, siapakah sebaik-baik manusia?” Beliau menjawab: “Siapa yang paling panjang umurnya dan baik amalannya. Dan seburuk-buruk manusia siapa yang panjang umurnya dan buruk amalnya” (HR Tirmidzi).

Maka, Berbahagialah bagi siapa saja yang dapat memanfaatkan umurnya untuk menabur amal shalih, yaitu menjalankan perintah Allah dan meninggalkan larangan Allah, dan celakalah bagi mereka yang menggunakan sisa umurnya untuk berbuat maksiat, selalu bikin onar dan membuat kerusakan di atas bumi. Alhasil, kita akan tergolong sebagai manusia terbaik, bila dalam kesempatan hidup itu kita pandai memanfaatkan umur kita sesuai kehendak Allah.

Jamaah Shalat Jum’at rahimakumullah,

Kedua, kita akan ditanya mengenai jasad kita, untuk apa jasad atau badan yang kita miliki digunakan? Manusia adalah makhluk Tuhan yang paling sempurna. Selain kita dikaruniai jasad yang lengkap dengan panca indra, kita juga dilengkapi dengan akal pikiran, dan hati. Oleh sebab itu, kita miliki kewajiban untuk menjaga jasad kita sebaik-baiknya, dengan menggunakannya untuk mengabdi kepada Allah. 

Allah melarang kita untuk melakukan hal-hal yang dapat menjatuhkan diri kita ke lembah kesengsaraan dan kebinasaan, seperti mengharamkan perbuatan yang dapat merusak jasad dan mental kita, seperti meminum minuman keras, berzina, dan akitivitas lain yang merusak kesehatan badan. Allah berfirman:

 

 “Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik” (QS. Al-Baqarah: 195).

 Jamaah Shalat Jum’at rahimakumullah

Pertanyaan Ketiga di hari kiamat adalah, untuk apa ilmu yang telah dimiliki? Ilmu adalah kunci utama dalam menjalani kehidupan di dunia maupun di akhirat. Artinya, bila kita menginginkan ketenangan, ketentraman dan kemudahan urusan dunia, maka diperlukan ilmu. Begitu juga saat kita menginginkan kebaikan diakhirat. Maka dari itu, ilmu akan bisa dikatakan bermanfaat, apabila Ilmu itu bisa menjadi sumber ketenangan dan ketentraman hidup didunia dan di akhirat.

Selain daripada itu, kita memiliki kewajiban untuk memanfaatkan dan mengamalkan ilmu yang kita miliki dengan sebaik-baiknya. Karena jika kita tidak mau memanfaatkan dan mengamalkan ilmu yang kita miliki dengan sebaik-baiknya, maka kita termasuk orang-orang yang celaka. Sebagaimana hadits Rasulullah SAW;

 

Artinya; “Sungguh sangat celaka orang yang tidak mau belajar dan sungguh sangat celaka orang yang mempelajarinya tapi tidak mengamalkannya.” (HR Abu Nu’aim dalam Hilyatul Auliya’) 

Oleh sebab itu, selain kita mempunya kewajiban untuk menuntut ilmu sebanyak-banyaknya dan sebaik-baiknya, kita juga memiliki kewajiban untuk mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari, lebih-lebih menolong orang lain dengan ilmu yang kita miliki.

Jamaah Shalat Jum’at rahimakumullah

Pertanyaan Keempat yang kelak akan ditanyakan pada hari kiamat adalah, mengenai harta kita, dari mana kita memperolehnya dan untuk apa kita belanjakan.

Dalam masalah harta, manusia akan terbagi menjadi tiga golongan, yaitu dua golongan celaka dan satu golongan yang selamat. Dua golongan yang celaka pada hari kiamat adalah mereka yang mengumpulkan harta dengan cara yang haram atau dari sumber yang haram, dan mereka yang mengumpulkan harta dengan cara yang halal tapi membelanjakannya untuk hal-hal yang diharamkan. Sedangkan golongan yang selamat adalah mereka yang mengumpulkan harta dengan jalan yang halal dan membelanjakannya untuk perkara-perkara yang halal.

Allah SWT memerintahkan kepada kita untuk membelanjakan harta kita untuk kebaikan dan perjuangan di jalan Allah. Sebagaimana firman Allah SWT;

 

Artinya: Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Maha luas, dan Maha Mengetahui. (Al-Baqarah; 261)

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Demikian khutbah yang saya sampaikan, mudah-mudahan bermanfaat dan dapat menuntun kita menuju kehidupan yang lebih baik dan penuh barakah. Serta, mudah-mudahan ilmu, umur, harta, dan badan yang kita miliki dapat kita manfaatkan sebaik-baiknya dan memperoleh ridha Allah Swt.